Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

PBNU Terbitkan Mushaf An-Nahdlah

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Selasa, 24 September 2013 0 komentar
PBNU menghadirkan Al-Quran berkualitas guna memenuhi kebutuhan Muslim Indonesia yang mencapati 2 juta eksemplar per tahun. Untuk itu, diterbitkan mushaf An-Nahdlah. Mushaf itu diluncurkan di PBNU, Jakarta, Jumat (21/6).

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffaz Nahdlatul Ulama (PP JQHNU) Ahmad Ari Masyhuri menceritakan proses pembuatan mushaf tersebut.

Menurut Ari, ada sembilan Pimpinan Pusat JQH yang terlibat dalam pembuatan mushaf tersebut. Kesembilan orang tersebut adalah Rais Majelis Ilmi JQHNU KH Ahsin Sakho Muhammad, Ketua Umum JQHNU KH Muhaimin Zen.

Kemudian KH Ahmad Fathoni , KH Jajim Khumaidi, KH Ahmad Dahuri, KH Masrur Ikhwan, Muthmainnah, Romlah Hidayah, dan Ahmad Ari Masyhuri, “Kesembilan orang ini mengawal subtansi untuk verifikasi dan validasi agar sesuai dengan Mushaf Utsmani,” katanya di sekretaria JQHNU, gedung PBNU, Jakarta selepas peluncuran Mushaf An-Nahdlah.

Mereka, tambah Ari, juga mengawal proses penerbitan, percetakan, halaman per halaman secara manual. Kemudian setelah dami masuk dikroscek halaman per halaman lagi.

“Setiap halaman di mushaf itu ada  logo NU-nya,” katanya.

Mushaf Al-Quran bernama An-Nahdlah diterbitkan PBNU melalui PT Hati Emas* yang menggandeng Asia Pulp & Paper (APP). Hadir pada kesempatan itu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, serta pengurus PBNU lain. Hadir pula beberapa Duta Besar negara sahabat seperti Mesir, Malaysia, Cina dan perwakilan OKI.

Penulis: Abdullah Alawi*Direksi PT Hati Emas Omar Aram mengatakan setiap mushaf yang diterbitkan terdapat zakat 2,5 %. Zakat tersebut akan diberikan kepada Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) untuk disalurkan

Baca Selengkapnya ....

Pencak Silat akan Menjadi Pelajaran Wajib di Madrasah

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara 0 komentar
Sebagai tindak lanjut atas instruksi Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali bahwa seni bela diri pencak silat harus menjadi pelajaran wajib di madrasah maupun pesantren. “ini ada permintaan khusus dari pak menteri agar pelajaran wajib di madrasah,” ujar Direktur Pendidikan Madrasah, Nur Kholis Setiawan dihadapan seluruh Kepala Bidang Madrasah seluruh Indonesia Senin kemarin (23/9) di Bandung Jawa Barat.

Sebagai langkah nyata, lanjut Nur Kholis, ia berharap pada Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) tingkat Nasional tahun 2013 yang akan diselenggaran di Malang Jawa Timur seni Pencak Silat dimasukkan sebagai salah satu cabang yang akan dilombakan, “karena di Banten sudah menjadi pelajaran wajib, paling tidak pada Aksioma tahun ini bisa kita wujudkan sebagai bentuk kontribusi riil untuk merawat keragaman seni nusantara,” paparnya saat membuka acara Sinkronisasi Program/Kegiatan Direktorat Pendidikan Madrasah Pusat dan Daerah.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa dalam pencak silat mempunyai beberapa dimensi selain cabang olahraga bela diri, seni pencak silat juga mempunyai dimensi seni yang perlu ditonjolkan karena merupakan warisan budaya nusantara, “jadi ini sebagai bagian dari reservasi budaya bangsa,” tukasnya. Untuk itu, lanjut dia lagi, dari sisi seni pula pencak silat bisa menjadi rumpun mata pelajaran di madrasah yang mampunyai konsekuensi positif.

Sebagaimana diketahui, Menag saat di Kota Serang Provinsi Banten akhir pekan kemarin mengintruksikan agar pencak silat masuk pelajaran wajib di madrasah maupun pondok pesantren. Tidak hanya itu, Menag juga berjanji akan memberi tambahan anggaran khusus untuk memperkuat menambah fasilitas pembelajaran silat di madrasah, “Saat ini baru di madrasah dan pesantren saja yang sudah mewajibkan pembelajaran silat, kita targetkan dalam satu tahun kedepan seluruh madrasah dan pesantren di Indonesia, silat sudah menjadi pembelajaran wajib,” kata Menag.


Sumber : Kemenag

Baca Selengkapnya ....

Puluhan Anak Muda Belajar Teknologi Informasi

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Senin, 16 September 2013 0 komentar
Puluhan anak muda dari berbagai daerah berkumpul di Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah yang dipimpin oleh Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus Solo, Jawa Tengah pada Ahad (15/9) sekitar pukul 09.00.

Mereka berasal dari Ahbabul Musthofa Sragen, Pondok Pesantren Ta’mirul Islam (Solo), Pondok Pesantren Baitul Musthofa, IAIN Surakarta, Majelis Dzikir Haqqani, Majelis Dzikir 123 Losari, D3 Teknik Informasi UNS, Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama (KMNU) UGM, Majelis Padang mBulan Majelis Riyadhul Jannah (Malang), dan Majelis Rotibul Haddad GP Ansor (Banyumas).

Anak-anak muda tersebut hadir untuk mengikuti Pelatihan IT yang digagas oleh Tim Aswaja IT Developer. “Peserta Pelatihan IT Aswaja akan mendapatkan pengetahuan gratis mengenai audio video streaming,” ungkap salah seorang panitia.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat materi mengenai cara mengunggah kajian yang diselenggarakan majelisnya melalui teknologi streaming. Streaming merupakan salah satu teknologi yang memungkinkan penggunanya mengunggah audio atau video secara live melalui jaringan internet. Dengan kata lain, pengguna teknologi ini dapat menyiarkan audio dan video layaknya radio atau televisi internet sehingga dapat dinikmati oleh siapapun yang terkoneksi dengan internet.

Setelah mengikuti pelatihan, diharapkan peserta mampu untuk menyiarkan kajian yang diselenggarakan majelisnya melalui jaringan internet. Hal itu senada dengan yang disampaikan oleh salah satu panitia, “Tujuan pelatihan IT ini agar di setiap majelis dan pondok pesantren mampu menyiarkan secara langsung semua acara kajian yang rutinan ataupun ketika acara akbar, dan menggunakan kecanggihan teknologi untuk dakwah.”

Peserta yang hadir dalam Pelatihan IT Aswaja sangat bersemangat mendengarkan materi yang disampaikan Muhammad Hafidz dan Seto. Bahkan, dalam pelatihan tersebut disepakati rencana untuk menyelenggarakan pelatihan serupa setiap hari Ahad.

Tim Aswaja IT Developer memberikan akun server radio streaming gratis kepada majelis, pondok pesantren, atau siapapun yang menginginkannya. Syaratnya, akun tersebut dimanfaatkan untuk dakwah Aswaja sehingga dapat dinikmati lebih luas.

“Nantinya semua radio online berfaham Ahlussunnah wal Jamaah akan dijadikan satu dalam situs www.StreamingIslami.com, baik yg pakai server kami atau bukan. Database streamingIslami.com inilah yang akan digunakan untuk database aplikasi mobile dan situs radio aswaja center.

Ketika database terupdate maka semuanya otomatis ter-update, lanjut panitia, setelah pelatihan berakhir. “Selain server radio streaming, kami juga berencana membuat server video streaming sendiri. Kalo sudah punya kan mantap, bisa dipakai semua majelis/ pondok pesantren yangg membutuhkan. Mengingat harga server radio dan video streaming tergolong msh sangat mahal.” imbuh perwakilan tim Aswaja IT Developer kepada NU Online. (Ozzy-Markun-Pekik Nursasongko/Abdullah Alawi/Nuonline)

Baca Selengkapnya ....

MPR RI Dorong Pemerintah Tindak Tegas Gerakan Khilafah

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Jumat, 13 September 2013 1 komentar
Majelis Permusyaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) akan mendorong pemerintah untuk menindak secara tegas terhadap gerakan-gerakan yang mempropagandakan negara berdasarkan khilafah.

Demikian dikatakan oleh Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin dalam diskusi yang bertajuk “Menggugat Empat Pilar” di Kantor PBNU lantai delapan, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (2/8) sore.

“Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah fenomena belakangan. Kita tentu harus serius dengan kehadiran HTI,” kata Lukman Hakim.

Lukman Hakim Saifuddin menilai pemerintah kurang serius menangani gerakan-gerakan yang merongrong Pancasila. Selain pemerintah, ia juga mengimbau masyarakat luas untuk tidak melakukan pembiaran terhadap gerakan-gerakan khilafah tersebut.

“Pemerintah seperti tutup mata terhadap ancaman gerakan khilafah,” kata Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Mashdar F Masudi dalam forum yang sama.

Di hadapan sedikitnya 70 peserta diskusi, KH Mashdar mengatakan bahwa negara-negara Islam sedang terjadi gejolak hebat di Timur Tengah. Ideologi absolut dan hitam-putih persoalan membuat keamanan tak kunjung datang.

“Kalau negara Islam saja sudah seperti itu, apalagi negara dengan sistem khilafah yang sangat absolut,” tegas KH Mashdar.

Dalam diskusi yang difasilitasi Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM NU), Lukman Hakim menjelaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar menjadi salah satu program utama MPR RI.

Karena, sambung Lukman Hakim Saifuddin muncul sejumlah fenomena-fenomena aktual yang mengikis nilai-nilai Pancasila mulai dari gerakan separatis, gerakan kekerasan, gerakan khilafah, perilaku sewenang-senang pejabat publik. (NU)

Baca Selengkapnya ....

Pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Sebut HTI Terkesan Tidak Mau Hormati Ulama

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara 0 komentar
"Dulu kami agak peduli dengan mereka (HTI). Namun, karena mereka seringkali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, dan terkesan mau menang sendiri dalam berpendapat, bahkan terkesan tidak mau menghormati para ulama yang lebih tua dalam segala aspek, maka kami tidak begitu menghiraukan mereka lagi. Apalagi pemahaman mereka itu sangat tidak cocok dengan kultur umat Islam bangsa Indonesia sebagai penerus perjuangan dakwah para Walisongo".

Demikian disampaikan oleh KH. Luthfi Bashori Malang,Alumni Ma'had Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki di Makkah Al Mukarrmah, sebagaimana yang tertulis didalam situs pribadinya Perjuangislam.com (6/6/2013).

Pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang tersebut mengungkap ketidak perluan pada HTI setelah mengetahui karakter kelompok HTI yang keras kepala, arogan dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, bahkan tidak menghormati ulama meskipun lebih mumpuni dalam segala aspek. 
Ketua Umum Pesanren Ilmu Alquran (PIQ) Singosari Malang juga menegaskan ketidak cocokan dakwah HTI dengan kultur ummat Islam Indonesia. 
Lebih jauh, KH. Luthfi Bashori mengatakan bahwa HTI hanya memperjuangkan pendapat Taqiyuddin An-Nabhani dan menolak fiqh Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanbaliyah yaitu Fiqh 4 Madzhab.
"Mereka (HTI) menolak fiqih 4 madzhab yang memperbolehkan hukumnya satu negara dipimpin oleh seorang presiden/raja/pedana menteri sebagai pemerintah yang sah menurut syariat, asalkan para pemimpinnya tidak melarang pemberlakuan syariat Islam. Mereka hanya memperjuangkan pendapat Taqyuddin Annabhani, tokoh HTI. Padahal dunia ini mayoritas dihuni umat Islam dari 4 madzhab." tulis Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Kabupaten Malang tersebut.
Penulis buku "Konsep NU dan Krisis Penegakan Syariat " tersebut juga mengaku sangat memahami arah pemikiran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena sering berdiskusi dengan mereka yang tidak pernah ketemu ujung pangkalnya.

"Kami sudah tahu persis arah pemikiran mereka, karena kami sering berdiskusi dengan kelompok HTI yang tidak pernah ketemu ujung pangkalnya", tulisnya.
KH. Luthfi Bashori juga menilai bahwa kelompok HTI tidak konsisten dan tidak konsekuen dengan keyakinan mereka sendiri. (*).

Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/09/alumni-mahad-al-maliki-hti-terkesan.html#ixzz2epHpC3IB

Baca Selengkapnya ....

Pemerintah Indonesia Abai Terhadap Gerakan Khilafah

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara 1 komentar

Pemerintah Republik Indonesia sudah melakukan pembiaran terhadap gerakan khilafah. Pembiaran Pemerintah RI menujukkan ketidakjelasan sikapnya. Padahal gerakan khilafah berupaya terang-terangan mendongkel dasar negara Indonesia Pancasila.

Demikian dikatakan oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mashdar Farid Masudi dalam forum diskusi yang diadakan LAKPESDAM NU di Kantor PBNU lantai delapan, jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (2/8) sore lalu.

Terkait sikap abai pemerintah itu, KH Mashdar merujuk kepada peristiwa deklarasi khilafah oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beberapa bulan lalu di stadion utama Bung Karno, Jakarta Selatan.

“Deklarasi khilafah itu ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah Televisi Republik Indonesia (TVRI),” kata KH Mashdar dalam diskusi yang bertajuk ‘Menggugat Empat Pilar’ yang juga dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin, Peneliti LIPI Siti Zuhro, Peneliti Pusat Pancasila UGM Kailani.

KH Mashdar menunjukkan sikap kecewa terhadap Pemerintah RI yang membiarkan media resminya TVRI memberikan forum gerakan khilafah dalam siarannya. Ia menilai pembiaran tayangan deklarasi khilafah itu sebagai tindakan fatal Pemerintah RI

“Pemerintah ini ingin menunjukkan sikap yang sangat toleran atau sikap saking linglungnya?” tegas KH Mashdar di hadapan sedikitnya 70 peserta diskusi. [NU]

Baca Selengkapnya ....

Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional II Dibuka Wakil Presiden RI

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Kamis, 12 September 2013 0 komentar
Kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional II (The 2nd International Competition of The Holy Quran Recitation) yang akan berlangsung di Masjid Istiqlal pada 12-13 September, dibuka oleh Wakil Presiden RI Boediono, semalam (12/9). Acara pembukaan berlangsung di Auditorium Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin Jakarta.

Dalam acara pembukaan yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional tersebut, Wapres Boediono mengatakan kegiatan MTQ ini merupakan alat pemersatu antar bangsa dan Ukhuwah Islamiah.

"Harapan kita selain dapat memotivasi lahirnya qori dan qoriah, hafidz dan hafidzah, kegiatan ini juga dapat menjadi wahana silaturahim memperkuat jalinan kerjasama muslim antar bangsa," kata Wapres.

Wapres juga menekankan pentingnya menghargai perbedaan pendekatan dalam memahami kandungan  Al Qur’an. "Atas perbedaan itu, kita wajib bersikap sesantun mungkin dan tidak sekali-kali memaksakan keyakinan kita. Juga jangan hadapkan nilai-nilai Al Qur'an dengan kearifan lokal," ucap Boediono.

Di akhir sambutannya, Wapres membunyikan beduk sebagai tanda bahwa kegiatan MTQ telah dibuka.

Kegiatan MTQ ini, menurut keterangan dari Kemenag akan diikuti oleh 40 peserta dari 21 negara. Tema yang diusung pada MTQ Internasional ke-2 kali ini adalah “MTQ Internasional Jembatan Ukhuwwah dan Kerja Sama Dunia Islam untuk Persahabatan, Perdamaian, dan Kerja Sama antarbangsa”.


(Ajie Najmuddin/Alhafiz K/NU-Online)

Baca Selengkapnya ....

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah Markas Bencana

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Senin, 09 September 2013 1 komentar
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah markas bencana sehingga harus di bubarkan. Demikian status jejaring sosial facebook milik KH. Thobary Syadzily, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tengerang Banten, menuliskan perkataan Abuya Muhtadi Banten. (9/8/2013)

"Kata Abuya Muhtadi Banten: HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) markas bencana. Olehkarena itu, HTI harus dibubarkan", tulis Kyai yang aktif melakukan pembelaan terhadap Aswaja hingga ke dunia maya ini.
Abuya Muhtadi atau KH. Abuya Muhtadi Dimyathi al-Bantani juga pernah menyatakan bahwa cita-cita Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan. Pengasuh Pondok Pesantren Cidahu Cadasari Pandeglang Banten ini juga pernah memberikan pernyataan secara tertulis bahwa HTI haram hukumnya dalam berbagai keadaan.

Baca Selengkapnya ....

Faham Islam Radikal Menyasar ke Mahasiswa Baru di Kampus

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara Sabtu, 07 September 2013 0 komentar
Fenomena gerakan Islam radikal yang merambah ranah kampus, membuat prihatin kalangan mahasiswa Nahdliyyin di Solo, Jawa Tengah. Gerakan tersebut menjadi benih-benih munculnya kelompok Islam garis keras dari kalangan akademis.

Ahmad Rodif, salah satu mahasiswa universitas negeri di Solo yang pernah merasakan hal tersebut secara langsung, belum lama ini menuturkan pengalamannya kepada NU Online. Dia mulai merasakan atmosfer yang berbeda ketika mulai menjadi mahasiswa baru.

Di kampus tempatnya kuliah terdapat program asistensi agama Islam (AAI) yang wajib diikuti mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menurutnya menjadi salah satu celah doktrinasi gagasan kelompok Islam garis keras. Program serupa juga diadakan di banyak universitas beken dengan nama yang berbeda.

“Ketika jadi mahasiswa baru, dulu amaliyah yang saya bawa dari rumah dianggap sesat bid’ah tidak ada tuntunannya. Yang mereka gagas cenderung menimbulkan keresahan, mereka mengajarkan apakah tahlilan, dzikir bersama, ziarah itu bid’ah,” tutur Rodif yang juga kader PMII Solo itu, Jumat (30/8).

“Kelompok yang berbeda paham dengan mereka disalahkan dan mesti ‘diluruskan’,” imbuhnya.

Gagasan yang disampaikan murobbi-nya (semacam mentor dalam sebuah kelompok AAI menjurus ke pemahaman yang keras. Misal saat di Indonesia banyak terjadi kasus disintegrasi bangsa, mereka memandang dari sisi agama semata, kelompok islam dan bukan islam. Akan tetapi tapi mereka tidak memandang bahwa mereka juga bangsa Indonesia yang punya hak yang sama.

Upaya Meredam

Sayangnya banyak dari mahasiswa baru, yang kemudian termakan doktrinasi mereka. Bahkan, sebagian dari mereka adalah kalangan muda Nahdilyyin. Rodif mengisahkan, ada salah seorang temannya yang berasal dari keluarga NU, setelah ikut salah satu organisasi di kampus, sikap dan pemikirannya berubah 180 derajat.

“Yang dia lakukan, dia mencoba untuk menyampaikan yang dia ketahui kepada teman kampus dan keluarga, yakni ‘menyadarkan’ kepada mereka, bahwa tradisi yang mereka lakukan itu ada yang salah,” kata Rodif.

Bahkan, ketika ditanya oleh Ibunya tentang perubahan sikapnya, ia hanya menjawab bahwa hal itu sudah menjadi jalan hidupnya.

Melihat fenomena tersebut, Rodif bersama teman-temannya kemudian mencoba untuk meredam gerakan doktrinasi tersebut. Dirinya mengaku belum mampu untuk sampai menghentikan kebijakan AAI, selain karena sudah menjadi kebijakan kampus, juga minimnya perhatian dosen dari kalangan NU. 

Rodif bersama bersama kader PMII yang lain, mencoba untuk menyebarkan pandangan Islam yang ramah, melalui kajian yang mereka adakan atau dengan menempel pamflet. “Kebetulan saya aktif di PMII, kami membentengi mahasiswa baru. Kita sampaikan bahwa siapapun orangnya, apapun latar belakangnya, mesti memiliki pandangan Islam Rahmatan lil Alamin,” pungkasnya.

Sumber: NU Online


Baca Selengkapnya ....

Gus Sholah Tolak HTI

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara 1 komentar
Dengan tegas Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid yang akrab disapa Gus Sholah menyatakan dirinya menolak paham Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di depan simpatisan HTI. Pernyataan itu dilontarkan pada acara halal bihalal DPD HTI Jombang di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Sabtu (7/9).

“Saya tidak nyambung dengan pemikiran HTI, tetapi saya tetap berkawan,” ucapnya Gus Sholah.
Ketika publik mengkhawatirkan Gus Sholah dipengaruhi HTI, ia dalam forum itu mengajak simpatisan HTI berpola pikir jernih.

Turut serta berjuang atas nama agama, negara, dan kemanusiaan, tegas Gus Sholah, bisa dilakukan tanpa harus mendirikan sistem khilafah. Ia mengkhawatirkan Indonesia yang berideologi Bhineka Tunggal Ika menuai banyak konflik seperti negara-negara di Timur Tengah.

Gus Sholah juga menceritakan panjang lebar tentang perjuangan para ulama terdahulu dalam mendirikan negara republik Indonesia. Tebuireng sebagai basis perjuangan para ulama melawan penjajah.

Ketika Pancasila menjadi dasar negara, ulama tidak keberatan untuk menghapus tujuh kalimat dalam butir sila pertama. “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya”, dihapus menjadi hanya Ketuhanan Yang Maha Esa, tambah Gus Sholah.

“Saya tidak mendukung, dan juga tidak menolak Khilafah. Karena, saya tidak punya wewenang itu. Silakan berwacana tentang khilafah. Tetapi kalau bergerak mendirikan khilafah, maka negara yang akan bertindak,” tandas adik kandung Gus Dur.

(Atung/Alhafiz K)
sumber nu.or.id

Baca Selengkapnya ....

Haram Hukumnya Ikut Hizbut Tahrir Indonesia

Dipublikasikan oleh Syabab Nusantara 1 komentar
Rois 'Am Majelis Muzakaroh Muhtadi Cidahu Banten (M3CB) Abuya Muhtadi Dimyathi menyatakan, keinginan dan upaya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan. 

Pernyataan disampaikan secara tertulis dalam satu surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2013. Surat pernyataan disampaikan langsung oleh beberapa murid Abuya Muhtadi ke kantor redaksi NU Online, Jakarta, Selasa (3/8) kemarin. Sebelumnya surat pernyataan itu juga sudah dikirimkan ke PBNU. 

Abuya Muhtadi menyatakan, HTI adalah ormas Islam dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan ingin menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara. 

“Perbuatan tersebut salah satu macam dari pemberontakan, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka dari itu HTI haram hukumnya dalam berbagai keadaan” demikian dalam pernyataan tersebut. 

Abuya Muhtadi adalah seorang ulama kharismatik di Pandeglang dan mempunyai banyak murid di wilayah Banten. Terkait surat pernyataan ini, menurut beberapa muridnya, Abuya gerah dengan gerakan kelompok HTI di wilayah Banten. Selain itu, informasi yang diterima , putra tokoh besar Abuya Dimyathi ini merasa dirugikan oleh HTI karena namanya sering dicatut dalam berbagai aktifitas mereka.
Sumber: NU Online

Baca Selengkapnya ....
Belajar SEO support Online Shop Sepatu Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Media Islam - Informasi Peradaban Umat.